Selasa, 26 Juni 2012

Pemain Bola Palestina Tetap Berjihad dan Menghafal Al Qur’an

Di tengah konflik berkepanjangan di Palestina ternyata para pemuda Muslimnya dapat menyempatkan diri untuk menikmati bermain sepak bola. Bahkan, ada yang menjadi prestasi hingga tingkat internasional. Pertanyaannya apakah permainan tersebut merusak prinsip Aqidah dan manhaj pemuda Palestina?

Alhamdulillah, redaksi arrahmah.com berkesempatan bertemu dengan Imam Masjid Gaza sekaligus dosen dari Universitas Islam Gaza, Syaikh Mahmud Hashem Anbar dan Syaikh Hani Rafiq Hameed Awwad. Keduanya akan menghadiri Konferensi Internasional Al Quds dan Palestina yang akan berlangsung di Bandung pada 4-5 Juli 2012.

Syaikh Hani menjelaskan, pada dasarnya Islam tidak melarang secara khusus bermain sepak bola, bahkan Islam mengajarkan bagaimana seorang Muslim yang kuat itu lebih baik daripada muslim yang lemah seperti dengan menganjurkan seorang Muslim berlatih berkuda, berenang, memanah, dan bergulat. “Hanya saja kita perlu mengatur waktu, agar suatu olah raga tidak mengganggu hal yang lainnya,” kata dosen jurusan Hukum di Universitas Islam Gaza ini, Jakarta, Senin (11/6).
Lanjutnya, di Gaza sendiri masyarakat banyak yang menyukai olahraga, termasuk sepak bola. Namun aktifitas tersebut alhamdulillah tidak menggangu para pemuda untuk menjalankan kewajiban mereka menimba ilmu agama. Para pemuda di sana tetap menjadi penghafal al Qur’an dan terlibat dalam aktifitas perjuangan melawan Israel.
“Bahkan, salah seorang tawanan Palestina di penjara Israel adalah seorang pemain bola berprestasi, tetapi dia juga orang yang berribath (menjaga perbatasan dalam rangka berjihad), dia juga penghafal al-Qur’an,” papar Syaikh Hani.
Lebih dari itu, Palestina mempunyai dua orang pemain bola internasional yang berprestasi yaitu Ahmad Kaskas dan Mahmud Zirziq yang pernah bermain di Barcelona bersama Messi. “Mereka ini adalah aktifis masjid dan hafal Qur’an 30 juz, Ahmad Kaskas saya sendiri yang mendidiknya ilmu agama di masjid,” ungkap Syaikh Hani.
Sementara itu , Syaikh Mahmud turut menjelaskan bahwa memang di dalam protokol Zionis disebutkan di dalamnya bahwa sepak bola harus menjadi alat untuk menyibukkan para pemuda, sehingga mereka lupa dengan agamanya.
“Namun, di Gaza kami sudah menyadarinya. Alhamdulillah hingga saat ini, di Gaza tidak terlalu mengkhawatirkan, karena di sana para pemuda tetap banyak memenuhi masjid untuk belajar agama dan menghafal al-Qur’an,” ujar dosen jurusan Tafsir dan Sunnah Universitas Islam Gaza ini.
Pria yang merupakan imam dan khatib Departemen Wakaf Gaza ini menjelaskan pula, perihal  pertandingan yang beberapa kali diadakan dengan Indonesia, menurutnya hal tersebut positif saja, sebagai penguat hubungan baik dengan Indonesia.
“Kekhawatiran anak-anak dan pemuda Palestina untuk meninggalkan ghiroh Jihad dan mengganti idolanya kepada pemain bola Insya Allah tidak terjadi. Karena kami terus mengawal mereka untuk mencintai para pejuang dan Syuhada,” jelas Syaikh Mahmud.

( arrahmah)

Senin, 10 Januari 2011

Pemikiran Gusdur (rohimahulloh ta'alaa)

Budaya

Perjanjian dengan Setan

Oleh Abdurrahman Wahid
Di tahun-tahun lima puluhan, beredar terjemahan noveler Damon Runyon, "Hantu dan Daniel Webster". Isinya tetang seorang Amerika abad lalu yang menggadaikan jiwanya kepada setan agar berhasil gemilang dalam profesi. Diakhir masa gadai, sang setan datang untuk menagih: orang itu harus hidup dalam bentuk lain. Menjadi kupu yang ditaruh dalam sebuah tabung, mengutuki nasibnya yang jelek, menjadi hamba setan.
Untungnya, melalui berbagai argumen dalam perdebatan antara pembela hukumnya - Daniel Webster - dan sang setan, dalam sebuah ‘peradilan spiritual' yang unik orang itu akhirnya dibebaskan dari sanksi.
Bagi kita, penggadaian jiwa kepada setan bukan dongeng aneh. Sekian banyak kepercayaan akan "pesugihan" sudah menjadi pengetahuan umum - dari soal monyet di Gunung Kawi, yang dikatakan penjelmaan dari mereka yang dulu dianugerahi kekayaan luar biasa, hingga babi jadi-jadian yang konon kembali menjadi manusia dikala mati dibunuh orang. Juga tuyul, yang kemarin dipopulerkan itu.
Menarik, bangsa-bangsa  Barat pun memiliki perbendaharaan cerita seperti itu, seperti dibuktikan Damon Runyon dalam noveletnya (cerita-pendek panjang) yang tadi. Tetapi ada perbedaan mendasar dalam pendekatan kepada materi pokoknya. Kepercayaan bangsa kita  itu menunjukkan sikap pasrah kepada ‘intervensi supranatural': paling jauh hanya mengambil intisari moral dari cerita atau kepercayaan itu, yaitu imbauan agar kita tidak menggadaikan jiwa kepada setan. Para penulis Barat, Seperti Damon Runyon tekanannya justru pada upaya membebaskan diri dari ‘sanksi hukum' setan.
Ini tentu dibawakan oleh nilai yang melandasi sikap hidup yang berbeda. Kita tidak mementingkan kebebasan manusia, sebagai peperangan,dari cengkeraman nasib, karena kita memang berwatak pasrah. Manusia Barat setidak-tidaknya sebagai prototipe justru menghardik nasib dan merebut inisiatif dari tangannya.  Karenanya, setan pun harus di lawan.
Sikap berani menentang surtan takdir seperti itu sudah tentu tidak tumbuh dalam sekejab: ia merupakan hasil perjalanan sejarah  panjang. Pun bukan merupakan sikap terbaik yang dapat dirumuskan manusia bagi hidupnya, karena sekularisme yang dihasilkannya juga membawakan krisisnya sendiri kepada ‘manusia Barat' saat ini. Namun, tak dapat diingkari ‘Manusia Barat' berwatak ingin menentukan nasibnya sendiri, bebas dari campur tangan siapapun juga.
Dalam perjalanan kian-kemari, penulis menonton di sebuah tempat sebuah filem menarik, dengan tema seperti itu. Film berjudul "Oh God, You Devil"  menampilakan gambaran baru dari tema lama damon Runyon di atas. Hanya saja penyelesaiannya idak dilakukan melalui sidang ‘pengadilan spiritual'.
Seorang musikus, yang belum berhasil mengangkat karier dalam usia 30 tahun, bertemu dengan sang setan. Makhluk ini berkuasa ini tampil dalam  sosok seorang agen yang menjanjikan promosi serba tuntas bagi sang musikus. Dalam keputsasaan akibat kebuntuan karier, si musikus menerima keagenan setan atas dirinya. Maka ia pun  ditukar secara fisik,  dengan seorang penyanyi rock sangat tenar - yang sudah sampai ‘masa perjanjian' nyadengan sang setan. Jiwa mereka bertukar tempat, alias bertukar raga.
Bintang rock tenar menjdi musikus yang mendampingi istri musikus yang tak maju-maju itu, tanpa sang istri menyadarinya. Sang musikus lokal, sebaliknya, langsung menjadi bintang tenar, dengan segala kesenangan hedonistiknya. Itu berjalan cukup lama. Namun, kemewahan berlimpah yang dimilikinya tidak dapat melupakannya dari kenangan kepada istrinya.
Ketika suatu ketika ia nekat mengintip sang istri makan di restoran kesayangan mereka berdua, didampingi musikus yang dulunya bintang rock tenar itu, tak dapat lagi dicegah keinginannya untuk membebaskan diri dari pengendalian setan. Dan dalam kekalutan jiwa itu ia berupaya mencari Tuhan. Dan Tuhanpun muncul -dalam personifikasi seorang pengkhotbah sederhana, dan kemudian lagi, seorang penduduk desa yang bersahaja.
Karena kesungguhan mencari Tuhan itulah maka sang Tuhan berbentuk manusia itu merasa belas kasihan. Lebih-lebih, karena sewaktu musikus-lalu-bintang rock terkenal itu masih anak-anak ayahnya pernah bekerja menanamkan kepercayaan dan cinta kepada Tuhan dan sesama. Tuhan berterima kasih kepada ayahnya itu - dengan jalan menolong diri musikus-lau-bintang-rock-tenar itu. Pertolongan Tuhan itu dinyatakan dalam bentuk sangat unik. Kedua personifikasi Setan dan Tuhan bertanding dalam permainan poker. Taruhannya: kalau setan menang, bintang rock tenar akan tetap dikuasainya: kalau sebaliknya ia akan diperbolehkan menjadi musikus sederhana.
Ternyata, Tuhan menang (bagaimana Tuhan dapat digambarkan kalah?) dan bebaslah sang makhluk dari cengkeraman setan. Caranya? Sang bintang rock tenar bunuh diri - dengan obat terlarang, dalam dosis berlebihan. Jiwanya keluar, menjelma menjadi musikus semula. Kebetulan musikus yang menempati raganya sebelum itu bertugas meliput kegiatan bintang rock tenar itu sebelum kematiannya.
Jiwa dipertukarkan. Bintang rock tenar dipulangkan sukmanya ke neraka, untuk memenuhi perjanjiannya dengan setan. Sang musikus langsung pulang ke rumah - kedalam kebebasan, ke dalam kekurangan dan kemelaratan. Tetapi juga kepada istrinya yang dicintainya, yang tengah mengandung tua dari benihnya dahulu. Kandungan tua istrinya itulah yang menyebabkan ia berontak dari kemewahan dan mencari pertolongan Tuhan untuk menjadi musikus miskin.
Siklus kehidupan yang positif: kembalinya sang pengembara, yang menyadari bahwa kemewahan tidak sebanding nilainya dengan kebebasan diri sebagai insan.